Jumat, 31 Juli 2015

Mbah Jambrong Suatu Misteri

Misteri Gaib Mbah Jambrong Pertama mulai menjadi warga Bandung awal tahun tujuh puluhan saya tinggal didaerah Dago di Jl.Sawunggaling. Karena tinggal di daerah Dago maka wilayah jelajahan bermain adalah; sekitar Balubur, Kebun Binatang, Kampus ITB ,Babakan Siliwangi, Simpang Dago dan Kampus Unpad. Keselatan paling jauh Jl.Braga sampai Alun-alun. Kendaraannya oplet,beca atau jalan kaki. Sepeda jejak paranormal motor waktu itu masih kendaraan yang mewah, mahasiswa ITB saja masih mayoritas menggunakan sepeda. Daerah Dago/Jl Dago pukul 21.00 sudah sepi sejalan bubarnya pertunjukan Bioskop(Karya) di depan BIP sekarang. Lokasi BIP belum ada tanda-tanda akan menjadi daerah pertokoan. Pojokan simpang empat Jl.Dago, Jl.Riau, adalah tempat paforit jajanan soto madura dan


berbagai jajanan lain yang murah meriah. Jl.Dago atau Jl.Ir.H.Juanda belum menjadi daerah perbelajaan, masih lokasi tempat tinggal golongan the have. Yang ada baru toko P&D milik orang cina di muara Jl.Sawunggaling – Jl. Dago tempat kami biasa belanja. Oleh sebab itu Jl.Dago ketika malam masih sepi yang ada paling-paling pedagang roti bakar tempat anak muda nongkrong. Udara Bandung masih terasa dingin lebih lagi malam hari tanpa menggunakan jaket tebal pasti tidak akan tahan. Sekarang Bandung sudah mulai terasa hilang rasa sejuknya. Karena daerah pemukiman dan pertokoan sudah meluas. Sekitar kampus UNPAD di Jl.Dipatiukur saja masih sepi masih banyak kebun penduduk.


Sekarang ketika jalan -jalan di Taman Ganesa ITB atau ketika menunggu anak \”opstek\” terkenang suasana tempo dulu saat kami suka numpang menonton pemutaran filem oleh mahasiswa ITB. Daerah Gelap Nyawang dan tempat penyaringan air ledeng menjadi daerah jelajah kami \”memergoki mahasiswa/pemuda-pemudi pacaran\” ketika jalan-jalan hendak pulang sehabis menonton film. Gedung yang menonjol selain kampus ITB adalah gedung reaktor atom disebelah Kebun Binatang. Lokasi Gedung Sabuga ITB masih berupa lahan sawah yang subur bertingkat-tingkat. Simpang Dago masih berupa warung-warung dan ada Kantor Polisi (Polsek Coblong). Jalan ke utara menuju Dago Tea House masih jalan kecil, paling jauh sampai curuk Dago dalam


suasana perkampungan. Daerah Babakan Siliwangi dan Polsek Coblong tersebut itulah yang tidak dapat saya lupakan terkait yang namanya \”Mbah Jamrong\”. Nama Mbah Jamrong sampai sekarang belum saya temukan rahasia dibalik nama itu. Kisahnya diawali sehabis menonton di kampus ITB suatu hari di malam Minggu , kami bertiga teman berjalan kearah kebun binatang terus kearah babakan Siliwangi dengan maksud mau main ke simpang Dago mencari jajanan malam. Setiba di persimpangan babakan Siliwangi ketika akan berbelok ke kanan menuju simpang Dago,terdengar suara erangan/jeritan dibawah pohon arah jalan menurun menuju jembatan. Karena suara erangan tidak berhenti juga dimalam yang sunyi itu membuat kami


takut, tetapi rasa ingin tahu lebih besar ada apa sebenarnya yang terjadi. Kami karena masih muda, maka keingin tahuan mengalahkan rasa takut . Kami dekati sumber erangan itu ternyata terdapat seorang wanita masih muda sekitar berumur 18- 20 tahunan berguling-guling dengan kondisi tidak sadar. Bingung juga menghadapi situasi itu mau diangkat tidak kuat karena akan menempuh jarak lebih dari seratus meter. Mengatasi itu salah satu teman berlari ke simpang Dago meminta bantuan dengan membawa tukang beca. Perempuan yang masih belum sadar itu kami naikkan ke beca beramai-ramai, lalu dibawa ke kantor polsek. Di kantor polsek dengan cepat berkerumun orang-orang yang


ingin tahu apa yang terjadi. Perempuan itu masih menggerorok, tangan dan kakinya menendang nendang tidak menentu.. Kemudian ada bapak-bapak yang berani menangani perempuan itu dengan bertanya:\”Mbah ,cucu minta maaf, mbah tolong pulang saja\”. Lalu terdengar suara berat yang tidak jelas dengan bahasa Sunda yang belum saya mengerti. Kemudian ada yang berteriak ambil air,kopi dan telor ayam. Setelah barang itu datang lalu di minumkan dan disodorkanlah telor kemulutnya perempuan. Sekejab saja barang tersebut diminum dan dimakannya dengan lahap walaupun matanya masih tetap tertutup. Setelah itu tangannya tetap masih memukul kesana kemari belum mereda. Bapak itupun bertanya kembali:\”Mbah siapa?, Apa yang masih


kurang?\”. Di jawab dengan suara berat menakutkan; \”Mbah Jamrong\”, dan terdengar suara meminta rokok. Rokok keretek gudang garam disulut lalu disodorkan kemulut itu perempuan. Di hisap sebentar lalu itu rokok dimakan ,dikunyah dengan lahapnya. Setelah itu badan perempuan menjadi lemas terdiam. Sang Bapak berkata lagi :\”Mbah ,tolong pulang saja dulu,maaf ya mbah\”.Bersamaan itu badan perempuan mengejang dan menggeliat lalu terdiam. Tidak berapa lama matanya terbuka ,seperti tidak terjadi apa-apa. Saya bertanya:\”Siapa itu Mbah Jamrong?\”. Tidak ada yang berani menjawab.Hanya ada yang berkata :\”Pamali pak\”. Saya pikir oo mbah Jambrong itu adalah namanya \”Pamali\”. Perempuan itu kemudian diantar pulang oleh tukang


beca. Selesailah derama yang menegangkan tidak pernah terlupakan. Setelah saya mengetahui arti \”pamali\”, maka nama\” Mbah Jamrong \”menjadi tidak jelas lagi bagi saya sampai sekarang . Oleh sebab itu setiap saya lewat Jl.Babakan Siliwangi timbul was-was jangan-jangan Mbah Jamrong muncul lagi. Adakah yang tahu apa atau siapa itu \”Mbah Jamrong ?\”. Mungkinkah suatu legenda setempat yang kemudian tergusur sejalan dengan hilangnya hamparan sawah dan kebun digantikan gedung dan hutan pohon menara tower pemancar sehingga Kompasiana dapat hadir dihadapan kita jejak paranormal 31 juli 2015 ?.



Mbah Jambrong Suatu Misteri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar